Langsung ke konten utama

REVIEW BUKU: KETIKA TUHAN TAK LAGI DIBUTUHKAN, reminder yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.


REVIEW BUKU: KETIKA TUHAN TAK LAGI DIBUTUHKAN, reminder yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari.


Jual Buku Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan oleh Ahmad Rifa`i Rif ... 
source:google

Beberapa pekan lalu saya berjanji untuk mereview buku ini, walaupun sempat agak terlambat – atau bahkan sangat terlambat. Tema buku yang saya baca kali ini tentang self improvement lagi – atau lebih tepatnya muhasabah diri. Berikut detail informasi mengenai buku ini.
Nama Penulis  : Ahmad Rifa’I Rif’an
Penerbit           : PT. Elex Media Komputindo
Jumlah halaman : 228 halaman
tanggal terbit   : Mei 2017
ISBN               :978-602-04-1847-6
Harga              : Rp.62.800,00


Profil penulis

Ahmad Rifa'i Rif'an (@ahmadrifairifan) | Twitter
 source: https://twitter.com/ahmadrifairifan


Ahmad Rifa’I Rif’an lahir dari keluarga yang sederhana, tetapi sangat kental Pendidikan keislamannya sejak kecil. Beliau merupakan alumni ITS Surabaya. Hoby menulis beliau baru muncul ketika menjalani bangku perkuliahan. Kini diusia yang masih berkepala dua, ia telah menulis lebih dari 100 buku. Dari ratusan buku yang telah ditulis, berikut adalah beberapa karya yang paling diminati oleh pembacanya:
·         Tuhan, maaf, kami sedang sibuk
·         The perfect Muslimah
·         Man Shabara Zhafira
·         Hidup sekali, Berarti, Lalu Mati
·         God, I miss you

Ketika Tuhan tak lagi dibutuhkan. Buku ini bisa menjadi perenungan bersama bahwa konsekuensi keimanan kepada Tuhan sungguh agung. dua diantaranya adalah membuat kita menjadi pribadi yang berakhlak dan bermoral. konsekuensi kedua adalah membuat kehidupan kita lebih damai, karena apa pun peristiwa yang kita alami, yang kitaingat pertama kali adalah Allah ta’ala. Sukses ritual, sukses sosial.
Singkatnya begini, buku ini memberikan beberapa contoh fenomena yang selalu kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal mengenai bagaimana kita seharusnya hidup sesuai aturan sosial dan agama yang berlaku, yang artinya ternyata tidak ada dikotomi diantara mereka.

TIAP BAB BERISI TENTANG FENOMENA KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Tanda Akhir Zaman: Pengemis yang Memiliki Harta Cukup 
source: pinterest

Yang paling saya suka dari buku ini adalah penulis selalu memberikan reminder kepada para pembaca mengenai fenomena yang “padahal” sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. selalu terbesit tiap lembarnya dalam benak saya “eh anjir gini ternyata” atau minimal para pembacanya istighfar deh. Selanjutnya yang lebih menarik dari buku ini, penulis selalu menyisipkan ayat Al Quran disetiap pembahasan dan juga kisah inspiratif dari sahabat rasul.
Hampir semua bab – terdapat 37 bab – saya menyukainya. Diantara sekian bab yang dibahas dalam buku ini, terdapat satu bab yang menurut saya sangat menarik, yakni tentang cerdas menghadapi kaum peminta. Hampir sebagian dari kita tentu pernah menemui kaum pengemis, entah itu di lampu merah, di pasar, depan mall, atau tempat ramai lainnya. Hanya dengan modal menadahkan tangan sambil menunjukan ekspresi yang memelas saja, mereka sudah dapat penghasilan tanpa harus dibentak oleh bos.
Tapi yang paling penting adalah “bagaimana sikap kita ketika menghadapi para pengemis?” ketika diperempatan lampu merah misalnya, ada seorang anak berpakaian lusuh menadahkan tangannya kepada kita, apa yang harus kita lakukan? Disinilah buku ini menjawab dengan sangat bijak. Sebenarnya kita bisa aja gak ngasih apa-apa dengan argumentasi “kalo gua ngasih uang berarti gua memotivasi mereka untuk selalu ngemis, dong?” kita juga bisa saja memberi uang kepada mereka dengan argumentasi “Tapi kan Rasul meneladankan kita untuk memberi sedekah kepada peminta-minta?” nahloh, kira-kira mau ambil sikap yang mana?
Jawabannya bergantung. Ya, bergantung sejauh mana kita dapat berkontribusi terhadap kehidupan mereka kedepan. Jika tidak memberi uang kepada mereka dengan argumentasi pertama, pertanyaannya adalah, apa yang bisa kita lakukan untuk mereka? bisa gak kita memberi keterampilan dan pendidikan dalam jangka panjang untuk mereka? dan masih banyak lagi. Kalo dirasa mampu maka pilihan pertama sangatlah bijak. Tapi selanjutnya kita memilih untuk tidak memberi, tapi selanjutnya tidak mau melakukan tindakan apapun, ya sama aja bohong. Tapi kalo dirasa enggak mampu membantu, kecuali dengan memberi uang kepada mereka, maka lakukan itu karena yang Allah perintahkan kepada kita memang begitu.
 
BUKU INI SAYA REKOMENDASIKAN UNTUK ….


boy feeding brown deers during daytime 
source:unsplash

  
Buku muhasabah ini saya rekomendasikan kepada kawan-kawan yang sering lupa. Lah, sering lupa kaya gimana? Mereka yang sering lupa jika mereka adalah makhluk yang memiliki kewajiban untuk melakukan kebaikan untuk diri sendiri dan juga orang lain, yang lalai akan tanggung jawab di dunia dan di akhirat – ini tuh gue tau. Dengan pilihan diksi yang indah, kisah fenomena sehari-hari yang ditaburi kisah inspiratif dan juga kutipan ayat Al Quran, gak ada salahnya untuk kawan-kawan membaca buku ini, apalagi sedang Ramadhan #DiRumahAja kaya gini. Untuk buku dengan harga Rp.62.800,00, buku ini bener-bener worth it banget. Penilaian saya pribadi buku ini cocoklah dapet rating 4,7 dari skala 5

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI BUKU: ENAKNYA BERDEBAT DENGAN ORANG GOBLOK problematika hidup yang dituangkan dengan kejenakaan oleh Puthut Ea

RESENSI BUKU: ENAKNYA BERDEBAT DENGAN ORANG GOBLOK problematika hidup yang dituangkan dengan kejenakaan oleh Puthut Ea PENDAHULUAN Kali ini saya akan memuat artikel resensi buku karya Puthut Ea yang berjudul Enaknya Berdebat Dengan orang Goblok. Buku ini merupakan kumpulan essai yang ditulis oleh Puthut ea yang membahas tentang problematika kehidupan dari hal yang terkecil hingga membahas isu ekonomi dan politik. Puthut Ea memaparkan kedekatannya melalui essai-essai yang ia tulis. Kamu akan diajak untuk memyadari isu-isu yang ada dikehidupan sehari-hari dengan candaan dan gurauan yang akan membuatmu tertawa. Bagaimana kaum anti rokok dan perokok berperang isu, perpolitikan di Indonesia sampai elektabilitas Prabowo dan Jokowi, semua itu tertuang dalam pemikiran Puthut Ea. Dari pada berlama-lama, yuk langsung saja baca artikel Resensi buku: Enaknya berdebat dengan orang goblok. Informasi buku: Judul buku     : Enaknya Berdebat Dengan Orang ...

Belajar bersikap Bodoamat dari Mark Manson

Belajar bersikap Bodoamat dari Mark Manson Melihat judulnya saja sudah nyeleneh dan menjadi daya tarik tersendiri dari buku ini. Yup, Sebuah Seni Untuk Bersikap Bodo Amat, merupakan salah satu buku self improvement yang recommended untuk para pembaca. Buku terjemahan dengan judul asli “ T he Subtle Art of Not Giving a F*ck ” menurut saya tidak dapat diterjemahkan ke Bahasa Indonesia seutuhnya, yang membua saya harus membaca berulang-ulang disetiap kalimat agar memahami makna dan pesan yang disampaikan Mark. Walaupun demikian Mark Manson yakni penulis dari buku ini dan seorang blogger terkenal ini, memberikan banyak kutipan menarik dan rasional, dengan analogi yang mudah dipahami dengan memberikan contoh kasus kehidupan sehari-hari. Kali ini saya akan mereview buku yang merupakan salah satu buku terlaris versi New York Times dan Globe and Mail. Source: Kompasiana Wait, Seni untuk bersikap bodoamat? Emang ada? Yup, agak nyeleneh memang, sekedar Bodoamat pun ada se...